Photography Tumblr Themes
les histories d'une conteuse ♥

I get lost in my own stories. |
twitter : @qisqiss






July

***

Di sini, di tempat ini, kau dan dia bertemu. Tatapan pertama bagimu biasa, sampai datang detik di mana kau benar-benar menatap matanya. 

"Ouch." Gadis berambut sebahu itu mengaduh, ia terjatuh tepat di depanmu. Amatir, batinmu meremehkannya. Tapi, kau mengulurkan tanganmu juga, yang membuat gadis itu mendongak menatapmu. 

Matanya berbicara, pikirmu saat itu. Matanya sendu, ada kerinduaan di sana. Tapi, kebahagiaan tampak jelas di mata sendu itu. 

Mau tak mau, kau tersenyum. 

"Pertama kali?" Kau melontarkan pertanyaan setelah ia berdiri, yang dijawab gelengan kepala gadis itu.

"Sudah lama gak main." Jawabnya singkat, kau mengangguk. 

"Thanks, anyway." Tambah gadis itu dengan senyuman di wajahnya, dan lagi-lagi kau hanya mengangguk. Gadis tadi melambaikan tangannya dan kembali meluncur ke tengah arena. Kau, mematung memandangi gerakan lincah gadis itu. Dalam hayi menyesal, kenapa kau tidak menanyakan namanya. 

Kau, yang datang untuk berlatih, akhirnya bersandar di tepi, menyaksikan gerakan demi gerakan yang dilakukan gadis bermata sendu itu. Tanpa kau sadari pelatihmu ikut memandanginya.

"Dulu dia cukup hebat. Sayang, setelah kejadian itu dia tidak mau ikut kompetisi lagi." 

Ucapan pelatihmu membuatmu menoleh, melempafkan tatapan penuh tanya pada perempuan yang tak lain adalah ibumu sendiri. 

"Kenapa?" Kau tidak bisa menahan rasa ingin tahumu. Ibumu, menjawab pertanyaanmu setelah menghela napasnya, 

"Rumit." Jawabnya singkat. 

"Anyway, namanya sama dengan nama bulan ini. Sana. Berlatih." 

Dasar, batinmu. Yang namanya Ibu memang tidak bisa ditipu. Apa saja terlihat olehnya. Tak lama setelah itu kau pun meluncur, menghampiri gadis yang menarik perhatiannya itu. 
 
“July?” 

Gadis itu menoleh, dan tersenyum. 

***

July

***

Di sini, di tempat ini, kau dan dia bertemu. Tatapan pertama bagimu biasa, sampai datang detik di mana kau benar-benar menatap matanya.

"Ouch." Gadis berambut sebahu itu mengaduh, ia terjatuh tepat di depanmu. Amatir, batinmu meremehkannya. Tapi, kau mengulurkan tanganmu juga, yang membuat gadis itu mendongak menatapmu.

Matanya berbicara, pikirmu saat itu. Matanya sendu, ada kerinduaan di sana. Tapi, kebahagiaan tampak jelas di mata sendu itu.

Mau tak mau, kau tersenyum.

"Pertama kali?" Kau melontarkan pertanyaan setelah ia berdiri, yang dijawab gelengan kepala gadis itu.

"Sudah lama gak main." Jawabnya singkat, kau mengangguk.

"Thanks, anyway." Tambah gadis itu dengan senyuman di wajahnya, dan lagi-lagi kau hanya mengangguk. Gadis tadi melambaikan tangannya dan kembali meluncur ke tengah arena. Kau, mematung memandangi gerakan lincah gadis itu. Dalam hayi menyesal, kenapa kau tidak menanyakan namanya.

Kau, yang datang untuk berlatih, akhirnya bersandar di tepi, menyaksikan gerakan demi gerakan yang dilakukan gadis bermata sendu itu. Tanpa kau sadari pelatihmu ikut memandanginya.

"Dulu dia cukup hebat. Sayang, setelah kejadian itu dia tidak mau ikut kompetisi lagi."

Ucapan pelatihmu membuatmu menoleh, melempafkan tatapan penuh tanya pada perempuan yang tak lain adalah ibumu sendiri.

"Kenapa?" Kau tidak bisa menahan rasa ingin tahumu. Ibumu, menjawab pertanyaanmu setelah menghela napasnya,

"Rumit." Jawabnya singkat.

"Anyway, namanya sama dengan nama bulan ini. Sana. Berlatih."

Dasar, batinmu. Yang namanya Ibu memang tidak bisa ditipu. Apa saja terlihat olehnya. Tak lama setelah itu kau pun meluncur, menghampiri gadis yang menarik perhatiannya itu.
 
“July?”

Gadis itu menoleh, dan tersenyum.

***


Satu Kata tentang Kita

Part 6. Tersembunyi.

***

Nayla berjumpa dengan Dio untuk pertama kali saat Masa Orientasi Siswa, setahun yang lalu. Mereka satu kelas, bahkan hingga kini. Nayla menyukai suara Dio saat ia berbicara, dan makin menyukainya saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

Di mata lentiknya, Dio seorang yang supel, banyak teman, mudah bergaul, tapi ada masanya Dio akan menyendiri, sibuk dengan jurnalnya, membiarkan earphone menempel di telinganya berjam-jam. Penanya ia ketuk-ketukkan beberapa kali sebelum akhirnya ia menulis lagi. Nayla ingin sekali membaca isi jurnal itu, tapi dia rasa Dio tidak mengijinkan siapapun mendekati jurnalnya.

Nayla bukan seorang gadis yang senang mendekati lelaki duluan, tapi sejak bertemu Dio, dia tahu dia harus berusaha mendekatinya duluan. Tapi ada satu yang tidak dapat Nayla ketahui, entah apa, mungkin sesekali mata Dio menerawang ke masa lalu yang tak pernah bisa Nayla singgahi. Dia benci hal itu. Dia ingin mengetahui segala hal tentang Dio. Tapi lelaki idamannya itu misterius, ada hal yang tak mau dia bagi, tersembunyi dibalik keramahannya.

Meski ia tidak menyembunyikan perasaannya, Dio tetap tidak melihatnya. Nayla bingung harus berbuat apa.

***

"Misi dong."

Suara ketus seorang perempuan membuatnya mendongak dari tali-tali sepatunya yang belum selesai ia ikat. Si jutek, batin Nayla. Dia pun bergeser dari tempatnya semula, memberi jalan supaya ketua osis nan jutek bisa lewat.

Karen mencibir, ia mengambil sepatunya dan langsung duduk di tempat yang agak jauh dari Nayla, tempat yang sama sekali tidak menghalangi jalan keluar masuk perpustakaan. Nayla tersindir secara tidak langsung. Mukanya bersemu merah.

"Nay?"

Suara yang amat dikenalnya itu membuat Nayla tersenyum, dan langsung berbalik menghadapnya.

"Hey Dio!" Ia tersenyum sangat lebar, mengabaikan wajah datar Dio.

"Kantin?" Ajak Dio singkat, melirik Karen yang sedang memainkan smartphonenya.

"Yuk, aku pengen baso tahu. Kamu mau makan apa?" Nayla bertanya balik sambil berjalan beriringan menuju kantin.

"Soto."

"Kok soto terus sih? Kayak ga ada makanan lain aja."

***

Karen memainkan smartphone-nya asal saj. Dia sama sekali tidak mau bertatap muka dengan Dio. Hatinya teriris melihat kedekatan Dio dan Nayla, tapi ia langsung terdiam mendengar percakapan mereka.

***

"Diooooo! Karen sama Bunda masak soto. Dio mau engga?" Gadis kecil yang giginya ompong itu berteriak dari halaman depan rumahnya, mengagetkan Dio yang sedang asik bermain mobil-mobilannya di teras rumahnya. Dio mengangguk dan berlari ke rumah sahabatanya itu sambil nyengir.

"Emang Karen bisa masak, Bunda?" Dengan polos Dio bertanya pada Bunda, ibu Karen yang tidak pernah ia panggil tante, sebagaimana Karen pun memanggil ibu Dio dengan sebutan Mama. Karen langsung cemberut mendengar pertanyaan Dio, sementara Bunda hanya terkekeh geli.

"Bisa looh. Bunda juga kaget. Bunda sih bantuin nyalain kompor sama motongin bahan-bahannya. Bumbunya Karen yang racik." Sambil tersenyum Bunda menaruh dua mangkuk soto banjar di hadapan Karen dan Dio, yang langsung lahap memakannya sampai habis.

"Karen, sotonya tadi enak banget." Ujar Dio di sela-sela suapan es krimnya.

"Asik. Nanti Karen bikinin lagi buat Dio."

"Janji?" Dio mengacungkan kelingking kirinya, yang langsung disambut kelingking kanan Karen.

"Janjiii."

"Kalau gitu Dio mau coba semua macam soto yang ada di dunia, mau mastiin ga ada yang seenak punya Karen."

"Ih nanti kalau makan soto yang diinget Karen dong?"

"Iya gapapa, kan Karen memang harus selalu Dio ingat."

Keduanya nyengir mendengar pernyataan Dio.

***

Karen menumpukan badannya ke tembok rendah lantai dua, yang menghadap langsung ke lapangan. Kali ini team cheerleaders yang sedang berlatih. Rambutnya yg lurus ia biarkan tergerai, kacamatanya ia gantungkan di saku kemejanya. Soto, yang terlebih buatan Karen, selalu menjadi makanan kesukaan Dio. Terkadang Karen yang masih kecil pun kewalahan memenuhi permintaan sahabatnya itu. Untung Bunda tidak pernah melarang Karen memasak. Bunda malah senang membantu Karen, anak keduanya itu punya banyak bakat, salah satunya di umur yang masih kecil sudah pandai masak.

Dio masih suka makan soto… batin Karen. Apa ini berarti….

Lamunan Karen terhenti saat seseorang meneriakkan namanya dari bawah, memintanya segera masuk ke ruang osis untuk memulai rapat.

***


Http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask




Ada kala di mana hati ini mengabu, kelam layaknya bumi berselimut kabut yang nyata, terasa, tapi tak dapat kusentuh. entah perumpamaan apalagi, yang selaras dengan jiwa yang membiru. pahit layaknya minuman hitam pekat, yang setiap pagi kau minum tanpa gula, asam layaknya buah kuning bundar kesukaanmu, yang tak pernah absen dari dalam tehmu.

Ada kala di mana raga ini memucat, layaknya patung di etalase-etalase yang selalu kau pandangi dengan seksama, terlihat kontras dengan apa yang dikenakannya, terlihat kaku tanpa air muka yang jelas menghiasi wajahnya, serasa jemu orang-orang menatapinya setiap hari. 

Ada kala di mana benak ini memerah, meskipun mata ini jelas tak dapat melihat warnanya, tapi jiwa ini tahu dia sudah lelah. lelah dipenuhi sampah-sampah yang dibuang dan ia pungut, lelah dipenuhi cercaan makhluk sesamanya dan tak juga beranjak dari tempat itu.

Ada kala di mana jiwa ini meraung. tidak seperti lain yang berganti warna, dia menolak. dia merasa muak. muak dengan apa yang dilakukan raganya, dengan apa yang dipikirkan benaknya, dengan apa yang dirasakan hatinya. bisakah mereka berhenti? bisakah mereka berhenti? bisakah mereka berhenti? 

tapi yakinkah kau, jiwa, kau ingin berhenti?




k1mkardashian:

selena gomez watching justin bieber’s career

image

HAHAHA

(via fuckyeahloldemort)




im-kellin-myself:

Do you ever look at someone and then look at yourself and get sad

Always

(Source: beaubroken, via fuckyeahloldemort)





Oh my God! Hahahaa

Oh my God! Hahahaa

(via laugh-addict)



=))

=))

(via laugh-addict)


canni8al:

so i was trying to find a picture of a bird that is big so i searched “big bird” but forgot he was a character

image

so i went back and typed in “a large bird” and THIS MOTHERFUCKER IS STILL HERE LOOKIN SAD LIKE I DIDN’T WANT HIM

image

Lol!

(via laugh-addict)






  • <p dir=ltr> Qisti: udah belajar belom lo dek? Pasti dari tadi main hape terus. Belajar!<br>
  • Rahsya: engga orang dr tadi fesbukan. Nyari fesbuk gebetan ga ketemu2<br>
  • Qisti: (dalam hati: wanjeeer ini anak sd udah main gebet aja) wetsah! Siapa namanya? Sini teteh cariin<br>
  • Rahsya: ga ah. Ada kok nomornya di hape<br>
  • Qisti: gileeeeeeee pantes henponnya dipassword. Pasti sms-an terus ama dia ya?<br>
  • Rahsya: engga. Mau ngetik "hai" aja degdegan banget. <br>
  • Qisti: ...... punya fotonya ga?<br>
  • Rahsya: engga. Mau adek foto pas kirab tapi ga dateng dianya<br>
  • Qisti: ...................</p>


  • <p dir=ltr> Ceritanya sama Mama di supermarket tadi siang....</p>
  • <p dir=ltr> Q: ini teh apa mah? Kunyit? Atau...?<br>
  • M: cikur itu<br>
  • Q: oooh kalau ini laja eh bukan ini mah jahe *chuckle* atuh parah aku kalau mau nikah gatau bumbu dapur mah<br>
  • M: eh kemaren mama mimpiin ***** loh. Tumbenan<br>
  • Q: ................<br>
  • M: sama temen teteh satu lagi, tapi gatau siapa. Ga jelas gitu mukanya<br>
  • Q: ............. terus mama ngapain sama mereka?<br>
  • M: jalan-jalan aja gitu <br>
  • Q: *dalam hati* kenapa tiap bahas nikah pasti nama ***** yang kesebut dari mulut mama.......... dasar kamu calon menantu idaman mertua. *pout* </p>